JAKARTA, incaschool.sch.id – Bumi tempat manusia tinggal saat ini menghadapi tekanan berat akibat perubahan iklim, pencemaran, dan kerusakan sumber daya alam yang terus meningkat. Moreover, sekolah perlu menanamkan kesadaran terhadap kondisi tersebut sejak usia dini agar generasi mendatang mampu menjaga keseimbangan lingkungan. Pendidikan lingkungan hidup hadir sebagai jawaban atas kebutuhan mendesak untuk membentuk pola pikir dan perilaku ramah lingkungan di kalangan pelajar. Furthermore, Kementerian Lingkungan Hidup mencatat bahwa pada tahun 2025 sebanyak 979 sekolah di seluruh Indonesia berhasil meraih penghargaan Adiwiyata, meningkat 35,8 persen dari tahun sebelumnya. Pencapaian ini menunjukkan bahwa semangat membangun budaya peduli lingkungan di satuan pendidikan semakin menguat dan meluas dari tahun ke tahun.
Namun angka tersebut masih sangat kecil sekali mengingat total sekolah di Indonesia melebihi 450 ribu unit. Additionally, sejak pemerintah meluncurkan program Adiwiyata pada tahun 2006, baru sekitar 28.990 sekolah yang pernah meraih penghargaan di berbagai tingkatan. Therefore, percepatan penerapan pendidikan lingkungan hidup di seluruh jenjang sekolah menjadi kebutuhan yang tidak bisa lagi menunggu demi mempersiapkan generasi emas Indonesia 2045. Kolaborasi yang erat dan berkelanjutan antara kementerian terkait, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk mewujudkan tujuan besar tersebut secara menyeluruh di setiap pelosok Indonesia.
Memahami Makna Pendidikan Lingkungan Hidup

Pendidikan lingkungan hidup merupakan proses pembelajaran yang bertujuan menumbuhkan kesadaran, pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta didik dalam menjaga serta melestarikan lingkungan sekitar. Moreover, konsep ini bukan sekadar mata pelajaran tambahan melainkan pendekatan menyeluruh yang menyentuh setiap aspek kehidupan sekolah. Berbagai pihak telah merintis upaya memperkenalkan pembelajaran berbasis lingkungan di Indonesia sejak era 1970-an meskipun pelaksanaannya masih berjalan secara terpisah. Furthermore, langkah yang lebih terstruktur baru bermula pada tahun 2005 ketika Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan Kementerian Pendidikan Nasional menandatangani nota kesepahaman untuk mengembangkan program ini di sekolah.
Secara luas, pendidikan lingkungan hidup mencakup pemahaman tentang hubungan timbal balik antara manusia dan alam beserta seluruh komponen yang ada di dalamnya. For example, peserta didik mempelajari siklus air, dampak pencemaran udara terhadap kesehatan, dan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati. Also, pembelajaran ini mendorong siswa untuk tidak hanya memahami teori tetapi juga mengambil tindakan nyata dalam kehidupan sehari hari. In addition, tujuan utamanya adalah membentuk warga negara yang memiliki literasi ekologi sehingga mampu membuat keputusan bijak terkait pengelolaan sumber daya alam.
Ruang lingkup pendidikan lingkungan hidup yang perlu sekolah ajarkan:
- Pemahaman tentang ekosistem dan hubungan saling ketergantungan antara makhluk hidup dengan lingkungan tempat tinggalnya
- Pengenalan dampak aktivitas manusia terhadap perubahan iklim, pencemaran air, tanah, dan udara secara menyeluruh
- Pengelolaan sampah melalui prinsip 3R yaitu mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang limbah
- Konservasi keanekaragaman hayati termasuk pelestarian flora dan fauna yang menghadapi ancaman kepunahan
- Penghematan energi dan air sebagai bentuk tanggung jawab terhadap keberlanjutan sumber daya alam
- Pengembangan sikap dan perilaku ramah lingkungan yang guru dan siswa terapkan dalam kegiatan sehari hari
Program Adiwiyata sebagai Wujud Pendidikan Lingkungan Hidup
Program Adiwiyata merupakan bentuk nyata penerapan pendidikan lingkungan hidup yang Kementerian Lingkungan Hidup selenggarakan bersama Kementerian Pendidikan. Moreover, istilah Adiwiyata berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari kata Adi yang berarti agung dan Wiyata yang berarti tempat memperoleh ilmu pengetahuan. Tujuan utama program ini adalah menciptakan sekolah sebagai tempat pembelajaran sekaligus penyadaran bagi seluruh warga sekolah termasuk guru, siswa, dan tenaga kependidikan. Furthermore, pada Desember 2025, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyerahkan penghargaan kepada 721 Sekolah Adiwiyata Nasional dari 31 provinsi dan 258 Sekolah Adiwiyata Mandiri dari 21 provinsi.
Empat komponen utama menjadi dasar penilaian dalam program Adiwiyata yang mendukung pendidikan lingkungan hidup. First, kebijakan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan dengan visi misi yang secara tegas memuat upaya pelestarian alam. Second, pengembangan kurikulum berbasis lingkungan yang mengintegrasikan materi terkait ke dalam mata pelajaran yang ada. Third, kegiatan lingkungan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan masyarakat sekitar. Additionally, komponen keempat adalah pengelolaan sarana pendukung sekolah yang ramah lingkungan seperti sistem sanitasi, pengelolaan sampah terpilah, serta penghematan energi dan air.
Tingkatan penghargaan dalam program Adiwiyata yang mendorong pendidikan lingkungan hidup:
- Adiwiyata tingkat kabupaten atau kota menjadi langkah awal bagi sekolah yang mulai menerapkan budaya peduli lingkungan
- Adiwiyata tingkat provinsi menuntut sekolah memenuhi penilaian lebih lanjut dari tim penilai daerah
- Adiwiyata tingkat nasional mensyaratkan skor paling sedikit 80 persen serta pencapaian penghargaan di tingkat sebelumnya
- Adiwiyata mandiri merupakan tingkatan tertinggi bagi sekolah yang mampu membina sekolah lain secara aktif
- Apresiasi Sekolah Rakyat Menuju Adiwiyata merupakan kategori baru tahun 2025 yang mencakup 13 sekolah nonformal
- Tim penilai mengukur setiap tingkatan berdasarkan enam aspek yaitu pengelolaan sampah, sanitasi, pembibitan tanaman, konservasi air, konservasi energi, dan pembaruan lingkungan
Pendidikan Lingkungan Hidup dalam Kurikulum Merdeka
Penerapan Kurikulum Merdeka membuka peluang besar bagi integrasi pendidikan lingkungan hidup ke dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Moreover, skema Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau P5 memberikan ruang bagi guru dan siswa untuk mengangkat tema gaya hidup berkelanjutan sebagai proyek pembelajaran. Pendekatan ini membebaskan sekolah untuk mengajak peserta didik mempelajari hal hal yang berkaitan langsung dengan kondisi lingkungan di sekitar mereka. Furthermore, Yayasan Konservasi Alam Nusantara bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Ogan Komering Ilir telah mengembangkan modul P5 tentang ekosistem mangrove untuk sekolah dasar pesisir Sumatera Selatan.
Pendekatan P5 dalam pendidikan lingkungan hidup mengutamakan pengalaman langsung yang membuat siswa lebih mudah memahami dan mengingat materi. For example, guru mengajak siswa mengamati ekosistem sungai, menanam bibit pohon, atau mengelola bank sampah sekolah sebagai bagian dari proyek semester. Also, tim pengembang menyusun konten pendukung seperti video animasi dengan nuansa lokal menggunakan bahasa daerah agar peserta didik lebih mudah memahami pesan yang guru sampaikan. Therefore, pendidikan lingkungan hidup melalui Kurikulum Merdeka tidak lagi bersifat teoritis melainkan menjadi pengalaman nyata yang membekas dalam kesadaran siswa.
Contoh kegiatan P5 bertema lingkungan yang mendukung pendidikan lingkungan hidup:
- Guru mengajak siswa mengamati dan mendokumentasikan ekosistem lokal seperti sungai, hutan mangrove, atau taman kota
- Siswa membuat kebun sayur atau taman herbal sekolah sebagai laboratorium hidup untuk memahami siklus pertumbuhan tanaman
- Tim siswa mengelola bank sampah sekolah dengan sistem pemilahan, pencatatan, dan penjualan hasil daur ulang
- Kelas menjalankan kampanye pengurangan plastik sekali pakai melalui poster, presentasi, dan aksi nyata di lingkungan sekolah
- Siswa mengolah sampah organik kantin menjadi kompos sebagai pupuk untuk kebun sekolah dan taman pembelajaran
- Kelompok siswa menyusun laporan proyek lingkungan lalu mempresentasikannya di depan kelas sebagai bentuk literasi
Lima Aspek Pendidikan Lingkungan Hidup Ramah di Sekolah
Kementerian Lingkungan Hidup menetapkan lima aspek utama Perilaku Ramah Lingkungan Hidup yang wajib sekolah peserta program Adiwiyata terapkan. Moreover, kelima aspek ini menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan lingkungan hidup di satuan pendidikan dan sejalan dengan agenda aksi iklim global. Penerapan aspek tersebut tidak hanya memperbaiki kondisi lingkungan sekolah tetapi juga membentuk kebiasaan positif yang siswa bawa ke rumah dan masyarakat. Furthermore, sekolah yang menerapkan kelima aspek ini secara konsisten memiliki peluang lebih besar untuk meraih penghargaan Adiwiyata di berbagai tingkatan.
Aspek pertama adalah kebersihan dan sanitasi yang mencakup pengelolaan drainase serta pemeliharaan fasilitas kebersihan sekolah secara menyeluruh. For example, sekolah menyediakan tempat cuci tangan, toilet bersih, dan saluran air yang terawat. Also, aspek kedua yaitu pengelolaan sampah menjadi bagian paling terlihat dari penerapan pendidikan lingkungan hidup di sekolah. In addition, aspek ketiga berupa konservasi keanekaragaman hayati mengharuskan warga sekolah menanam berbagai jenis tumbuhan dan memelihara ruang hijau sekolah secara aktif.
Lima aspek perilaku ramah lingkungan yang wajib sekolah terapkan:
- Kebersihan dan sanitasi mencakup pengelolaan drainase, toilet bersih, dan fasilitas cuci tangan yang memadai
- Pengelolaan sampah meliputi pemilahan sampah organik dan anorganik serta penerapan prinsip pengurangan limbah
- Konservasi keanekaragaman hayati melalui pembibitan tanaman, pemeliharaan taman sekolah, dan pelestarian flora lokal
- Penghematan dan konservasi energi dengan mematikan lampu saat tidak menggunakannya dan memanfaatkan cahaya alami
- Penghematan dan konservasi air melalui perbaikan keran bocor, penampungan air hujan, dan penggunaan air secara bijak
Manfaat PendidikanLingkunganHidup bagi Peserta Didik
Penerapan pendidikan lingkungan hidup memberikan dampak positif yang luas bagi perkembangan peserta didik di berbagai aspek kehidupan. Moreover, penelitian di SMA Negeri 1 Parakan menunjukkan bahwa program Adiwiyata memberikan dampak signifikan pada aspek pengetahuan siswa dengan kategori sangat baik dan aspek partisipasi serta perilaku dengan kategori baik. Siswa yang rutin terlibat dalam kegiatan penghijauan, bank sampah, atau kampanye hemat energi mengembangkan rasa tanggung jawab yang lebih kuat terhadap lingkungan sekitar. Furthermore, pendidikan ini juga membentuk karakter disiplin, kerja sama, dan kepedulian sosial yang menjadi bekal penting bagi masa depan mereka.
Manfaat tersebut melampaui lingkungan sekolah dan meluas hingga membentuk budaya peduli lingkungan di masyarakat. For example, ketika siswa menerapkan kebiasaan memilah sampah di rumah, keluarga mereka ikut mengikuti langkah yang sama. Also, sekolah yang menerapkan pendidikan lingkungan hidup secara konsisten menjadi contoh bagi masyarakat sekitar dalam mengelola lingkungan. Additionally, orang tua dapat mendukung proses pembelajaran dengan menerapkan kebiasaan ramah lingkungan di rumah seperti menanam tanaman, menghemat listrik, dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Dampak positif yang siswa peroleh melalui pendidikan lingkungan hidup:
- Peningkatan pengetahuan tentang ekosistem, perubahan iklim, dan cara menjaga kelestarian sumber daya alam
- Tumbuhnya sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap kebersihan serta kelestarian lingkungan di sekitar
- Berkembangnya keterampilan kerja sama melalui kegiatan kelompok seperti gotong royong dan pengelolaan bank sampah
- Terbentuknya kebiasaan hidup hemat energi dan air yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun lingkungan
- Meningkatnya kemampuan berpikir kritis dalam menganalisis masalah lingkungan dan mencari solusi yang tepat
- Munculnya jiwa kepemimpinan melalui peran sebagai duta lingkungan atau koordinator kegiatan hijau di sekolah
Tantangan Penerapan PendidikanLingkunganHidup di Sekolah
Meskipun manfaatnya sangat besar, penerapan pendidikan lingkungan hidup di sekolah masih menghadapi sejumlah tantangan yang perlu seluruh pihak atasi secara bersama. Moreover, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyoroti bahwa selama 16 tahun sejak pemerintah meluncurkan Adiwiyata rata rata hanya 218 sekolah per tahun yang berhasil mencapai predikat tersebut. Jika pola ini terus berlanjut maka negara membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memastikan seluruh sekolah di Indonesia menerapkan budaya lingkungan. Furthermore, banyak sekolah masih mengikuti paradigma lama yang mengejar prestasi akademik semata sementara mengabaikan aspek lingkungan.
Tantangan lain muncul dari anggapan bahwa Adiwiyata hanya sebatas lomba untuk meraih penghargaan sehingga sekolah menjalankan kegiatan hijau sesaat menjelang penilaian. However, seluruh pemangku kepentingan perlu mengubah pemahaman ini karena pendidikan lingkungan hidup seharusnya menjadi budaya yang melekat dalam seluruh aktivitas sekolah setiap hari. Also, keterbatasan anggaran dan sarana menjadi kendala bagi sekolah di daerah terpencil untuk mengembangkan program ini secara optimal. Therefore, kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci untuk mempercepat perluasan jangkauan pendidikan lingkungan hidup ke seluruh pelosok Indonesia.
Langkah yang dapat sekolah lakukan untuk memperkuat pendidikan lingkungan hidup:
- Membentuk tim pengelola lingkungan sekolah yang melibatkan guru, siswa, dan tenaga kependidikan secara aktif
- Mengintegrasikan materi lingkungan ke dalam setiap mata pelajaran bukan hanya pada pelajaran sains atau geografi
- Memanfaatkan lahan terbatas untuk membuat taman mini, kebun vertikal, atau kebun sayur sebagai laboratorium hidup
- Menjalin kerja sama dengan dinas lingkungan hidup setempat, perguruan tinggi, dan organisasi pelestarian alam
- Melibatkan orang tua dan masyarakat sekitar dalam kegiatan penghijauan, pengelolaan sampah, dan kampanye lingkungan
- Menggunakan skema P5 dalam Kurikulum Merdeka untuk mengangkat tema lingkungan sebagai proyek pembelajaran semester
- Mendokumentasikan setiap kegiatan lingkungan sebagai portofolio menuju pencapaian penghargaan Adiwiyata
Kesimpulan
Pendidikan lingkungan hidup merupakan kebutuhan mendesak yang harus menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem pendidikan di Indonesia. Moreover, pencapaian 979 sekolah peraih Adiwiyata pada tahun 2025 menunjukkan kemajuan yang menggembirakan meskipun masih menyisakan pekerjaan besar mengingat total sekolah di Indonesia melebihi 450 ribu unit. Program Adiwiyata dengan empat komponen utamanya memberikan kerangka kerja yang jelas bagi sekolah untuk menerapkan budaya peduli lingkungan secara menyeluruh. Furthermore, Kurikulum Merdeka melalui skema P5 membuka peluang bagi sekolah untuk mengangkat tema lingkungan sebagai proyek pembelajaran yang bermakna dan bersentuhan langsung dengan kehidupan nyata peserta didik.
Tantangan berupa keterbatasan anggaran, paradigma lama, dan jangkauan program yang belum merata memerlukan kolaborasi seluruh pihak untuk segera mengatasinya. Additionally, setiap sekolah memiliki peluang untuk memulai langkah kecil namun berdampak besar bagi masa depan lingkungan dan kehidupan generasi mendatang. In conclusion, pendidikan lingkungan hidup bukan sekadar program tambahan melainkan sebuah investasi jangka panjang untuk mencetak generasi yang cerdas, bertanggung jawab, dan mampu menjaga kelestarian bumi bagi kehidupan seluruh makhluk yang akan datang.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Pengetahuan
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Personal Hygiene Panduan Kebersihan Diri untuk Siswa


